Mediawisata’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Menyusuri Masa Perjuangan Soesilo Soedarman

sd-1Indonesia sudah pasti mengenal sosok Soesilo Soedarman. Salah seorang Jendral TNI (Purn) kelahiran Desa Nusajati Kecamatan Maos Cilacap, 10 November 1928. Saat ini, nama besar Sang Jendral dan masa mudanya diabadikan di dalam salah satu gedung museum di Cilacap.

Masyarakat menyebutnya Museum Soesilo Soedarman. Terletak di Desa Gentasari wilayah Kecamatan Kroya, namun keberadaannya lebih terjangkau bila ditempuh dari arah Sampang karena kondisi jalan yang dilalui, lebih bagus dan terbantu oleh rambu-rambu.

Bangunan museum menempati Pendopo Wisma Mbah Ageng yang dibangun pada tahun 1899 oleh Eyang Dipakarsa, Penatus Pertama Desa Gentasari yang dikenal pula sebagai Eyang Mendali dan merupakan Eyang Buyut dari Soesilo Soedarman. Konon di sinilah Soesilo Soedarman kecil menghabiskan waktunya dengan menimba ilmu agama di bawah bimbingan sang kakek.

sd-21Konsep arsitektur Wisma Mbah Ageng, sangat memperlihatkan bangunan jawa khas banyumas dengan atapnya yang menjulang tinggi berbentuk piramida dan ditopang dengan belasan tiang kayu jati. Sementara di beberapa sudut halaman Museum, terpajang kenang-kenangan dari Batalyon Kavaleri I TNI-AD berupa kendaraan panser Amphibi buatan Rusia tahun 1958 dan pesawat Patroli Maritim NOMAD N-22 TNI-AL dengan nomor P-806, yang merupakan Pesawat Panglima Kowilhan-I. Keberadaan kendaraan tempur ini sangat beralasan karena dalam kurun tahun 1956 hingga 1960, Soesilo Soedarman yang saat itu berpangkat Mayor, merintis berdirinya Korps Kavaleri Indonesia sekaligus menjabat sebagai Komandan Batalyon ini.

 

Semasa hidupnya, Soesilo Soedarman merupakan tokoh yang memiliki minat tinggi dalam melestarikan adat dan kebudayaan jawa. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan seperangkat gamelan milik keluarga Kyai Manis dan puluhan tokoh wayang kulit yang dibuat sekitar abad 18, turut menghiasi Paviliun Timur. Selain gamelan dan wayang kulit, foto-foto kegiatan Soesilo Soedarman bersama keluarga Keraton Kesultanan Yogyakarta, Surakarta dan Mangkunegaran dalam mengembangkan budaya Jawa juga terpajang apik dalam ruangan ini.

Berbagai macam koleksi berciri khas militer masa perjuangan, tertata lengkap di setiap lemari pajang dalam museum tersebut. Koleksi senjata api yang menemani tugas-tugas Soesilo Soedarman sebagai abdi negara seperti pistol semi otomatik FN-45, P-1 dan TT terawat dengan baik. Di sudut lainnya, senapan yang digunakan dalam perang dunia II seperti M-1, SP-1, Senapan Serbu M-16 A-1, SS-1 V-1, HK-33, AK-47, AK-56, Senapan mesin RPD, Pelontar Granat, Pistol Mitraliur, Peluncur Granat Roket RPG-7 dan senapan tabur (Shotgun) juga tersimpan di Museum ini.

sd-4

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto-foto saat Jenderal TNI (Purn) H.Soesilo Soedarman wafat pada 18 Desember 1997 dan dimakamkan dengan upacara kebesaran militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata Jakarta juga disimpan di sini. Selama tiga hari pasca meninggalnya Soesilo Soedarman, bendera merah putih dikibarkan setengah tiang untuk mengenang seluruh dedikasinya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Steve Saputra

 

Advertisements

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: